MBG Lewat Laut, Warga Botanglomang Pertanyakan Mutu Makanan “Anak-Anak Makan yang Sudah Lama di Perjalanan”

HALSEL, Lintaskieraha–Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi siswa di Kepulauan Botanglomang justru memunculkan kegelisahan baru di tengah warga. Bukan karena programnya ditolak, tetapi karena cara pendistribusiannya dinilai berpotensi mengorbankan mutu makanan yang diterima anak-anak sekolah.

Di wilayah yang harus ditempuh lewat jalur laut menggunakan long boat, makanan MBG diketahui dimasak di satu desa, lalu diantar ke desa lain dengan waktu tempuh yang tidak agak lama Bagi warga, persoalannya sederhana namun krusial berapa lama makanan itu berada di perjalanan sebelum sampai di tangan siswa?

“Ini makanan bergizi, tapi kalau sudah berjam-jam di laut sebelum dimakan, apakah gizinya masih terjaga? Apakah masih layak dari sisi kesehatan?” ujar salah satu warga Botanglomang dengan nada heran.

Warga mengaku sangat mendukung program MBG karena manfaatnya nyata bagi anak-anak. Namun mereka menilai, sistem distribusi yang diterapkan saat ini justru berpotensi menurunkan kualitas makanan itu sendiri.

Menurut warga, jarak antar desa yang dipisahkan lautan membuat waktu distribusi menjadi persoalan serius.

Makanan yang telah dimasak harus menunggu proses pengantaran melewati ombak, panas, dan waktu yang panjang sebelum akhirnya dibagikan di sekolah
“Kami bukan menolak programnya, Kami hanya minta kualitasnya dijaga Jangan sampai anak-anak makan makanan yang sudah terlalu lama di perjalanan,” tegas warga lainnya.

Kondisi ini membuat masyarakat mendesak agar dapur MBG ditempatkan di masing-masing desa, atau minimal di titik yang lebih dekat dengan sekolah penerima Dengan begitu, makanan bisa langsung dibagikan setelah dimasak, tanpa harus ‘berlayar’ terlalu lama.

Warga menilai, jika tujuan utama MBG adalah menjaga kesehatan dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa, maka aspek kesegaran dan kelayakan makanan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar memastikan makanan sampai.

“Program ini bagus. Tapi kalau teknisnya tidak disesuaikan dengan kondisi kepulauan, maka yang dirugikan adalah anak-anak,” ujar seorang tokoh masyarakat.

Di tengah sorotan tersebut, warga tetap mengapresiasi pengawalan yang dilakukan Bhabinkamtibmas Desa Bajo, Bripka Hamdi Soleman, yang ikut memastikan proses distribusi berjalan aman hingga ke sekolah-sekolah Namun menurut mereka, pengamanan saja tidak cukup jika sistem distribusi belum menjawab persoalan mendasar.

Kini, harapan warga Botanglomang sederhana evaluasi serius dari pihak pelaksana dan pemerintah daerah. Sebab bagi mereka, MBG bukan sekadar program pembagian makanan, tetapi menyangkut kesehatan generasi masa depan di wilayah kepulauan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *